Membukukan Harapan

SUATU HARI DI AKHIR TAHUN 2012, wartawan senior Karni Ilyas bercerita tentang seorang anak muda yang baru dikenalnya. Karni terkesan karena waktu merantau ke Jakarta tahun 1970-an, ia pun pernah tinggal di Tanjung Priok dan tidur di bawah gerobak nasi milik kerabatnya—mirip dengan penggalan hidup Ahmad Sahroni.

“Hebat itu anak. Ibunya tukang jual nasi Padang di pelabuhan Tanjung Priok. Sekarang dia jadi pengusaha sukses!”

Dari semua tokoh yang pernah saya tulis atau saya sunting kisah hidupnya, inilah kali pertama saya menulis tentang seseorang yang hanya dikenal oleh segelintir orang. Tapi saya tertantang karena zig zag kehidupan sosok ini luar biasa. Semua orang yang mengenalnya tidak menyangka dia bisa seperti sekarang. Bahkan, setelah selesai menulis pun saya masih sulit percaya bahwa ini kisah nyata.

Seperti ketika biografi Barack Obama belum ditulis, ketika Ibnu Sutowo belum bercerita kepada Ramadhan K.H., dan ketika Karni Ilyas menyimpan sendiri kisah 40 tahun perjalanan hidupnya sebagai wartawan, tidak banyak yang tahu lika-liku perjalanan hidup mereka.

Ahmad Sahroni menunjukkan bahwa semua orang pada dasarnya adalah orang kaya. Orang biasa, tanpa terkecuali, sebenarnya punya semua yang dimiliki Roni, yaitu: kerja keras, tidak gampang menyerah, sabar, dan jujur. Tapi kebanyakan kita lupa bahwa harta itu melekat pada diri kita.

Menulis bukan sekedar menata kata-kata agar disuka pembaca. Menulis adalah membukukan harapan. Selamat membaca kisah yang menginspirasi ini.

 

Jakarta, Agustus 2013

Fenty Effendy

 

Sumber: http://www.fentyeffendy.com

Ahmad Sahroni: Dari Jelata ke Pengusaha Sukses

Tak ada yang mengenal nama Ahmad Sahroni. Wajar saja, ia hanya seorang anak pedagang nasi padang di kawasan Priok. Namun kini, jangan pandang remeh Roni. 36 tahun telah membuatnya menjelma menjadi seorang sukses.

Kalau dulu, ia hanya pemuda pinggiran biasa, kini Roni menjadi pengusaha sukses. Ia, bahkan menjadi Ketua Ferrari Owner's Club Indonesia.

Kesuksesan Roni hanya mengandalkan dua kata kunci: doa dan usaha. Ia telah melalui perjalanan panjang untuk mencapai titiknya saat ini. Dirinya dulu hanya anak ingusan yang tak merasakan bangku kuliah. Namun, itu tak membuatnya putus asa. Ia bekerja keras, dan tetap berani bermimpi. Mulai dari tukang semir sepatu, ojek payung, sampai akhirnya bisa mendirikan usahanya sendiri.

Kisah Roni itu terangkum dalam buku terbaru Fenty Effendy, 'Ahmad Sahroni, Anak Priok Meraih Mimpi'. Fenty biasa menulis biografi tokoh besar, seperti Bima Arya, Jusuf Kalla, dan Karni Ilyas. Apa yang kemudian membuatnya tertarik pada tokoh Roni?

Ditemui pada peluncuran bukunya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin 23 September 2013, Fenty menuturkan dirinya tertarik pada perjuangan hidup Roni.

"Dia cerita sekolah naik sepeda, dimarahi bos, dilempar asbak. Awalnya nggak percaya hidupnya berurai air mata. Saya merasa, harus menulis tentang orang ini," ujar Fenty.

Pilihan wartawan TVOne itu tak salah. Sosok Roni memang menginspirasi. Tujuan awalnya membenahi diri hanya satu saat itu: ingin membuktikan orang Priok juga bisa berguna. Tak boleh diremehkan.

"Priok dibilang sarang preman, narkoba. Saya ingin membuktikan orang Priok juga bisa sukses," tuturnya dalam kesempatan yang sama.

Keberhasilannya itu ikut membahagiakan keluarga. Dulunya dicemooh, sekarang bisa berpenampilan mentereng. Namun, itu tak membuat Roni lantas menyombongkan diri. Setiap menghadapi orang kecil, ia mengingat hidupnya dulu.

"Dulu diusir-usir orang. Jadi, sekarang nggak jadi orang kaya yang sombong," ucap Roni sambil tersenyum.

 

Silahturahmi dan Sosialisasi bersama Ketua DPP Partai NasDem

Ahmadsahroni.com- Silahturahmi dan sosialisasi H. Ahmad Sahroni, SE bersama Ketua DPP Partai NasDem Drs. Enggartiasto Lukita di Jl. Lorong X Rt. 09 RW. 01 Kel. Koja Kec. Koja yang dihadiri oleh Ketua RW, Ketua RT dan warga sekitar, (17/9/13).

Anak Priok Meraih Mimpi

INILAH.COM, Jakarta - Ibunya adalah generasi kedua penjual nasi Padang di pelabuhan Tanjung Priok. Setelah tamat SMA, nasibnya juga bisa terpaku di situ.

Ke sekolah ia mengayuh sepeda, atau membonceng di sepeda motor temannya. Benar ia pernah menjabat ketua OSIS, pertanda teman-teman melihat potensinya sebagai panutan. Namun sejak masih berseragam putih abu-abu, Roni sudah bekerja sebagai sopir. Bahkan, menjadi sopir seolah takdir yang digariskan untuknya.

 Inilah daftar pekerjaan Roni dalam tiga tahun setelah lulus: sopir sekaligus pesuruh, tukang cuci kuali di kapal pesiar, sopir untuk mengantar anak-anak ke sekolah, dan lagi-lagi, sopir. Kali ini merangkap tukang gotong selang kapal pengangkut bahan bakar di pelabuhan.

Kini, hari-hari berat itu telah berlalu. Sebagai ketua Ferrari Owners’ Club Indonesia (FOCI), anak Priok ini bebas memilih mobil untuk dipakai sendiri, bahkan mobil balap sekalipun.

Roni berhasil membuktikan bahwa sukses di usia 30-an bukanlah soal Anda keturunan siapa atau berapa banyak harta orang tua. Juga bukan karena belajar di sekolah yang mahal, atau terkenal. Kesuksesan adalah hasil kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.

“Apa saja yang disuruh orang, saya kerjakan. Saya nggak pernah nolak dan enggak pernah pula bilang ‘nggak bisa’. Semuanya kelar. Bukan kesombongan. Bukan titik membanggakan diri. Tapi begitulah kisah nyatanya. Satu pesan saya, jauhi narkoba. Saya dulu merokok aja enggak berani, apalagi minum minuman keras, dan sampai sekarang tetap begitu,” kata Roni.

“Ahmad Sahroni. Anak Priok Meraih Mimpi” adalah buku ketiga yang ditulis oleh biografer Fenty Effendy dalam satu tahun terakhir. Dua buku sebelumnya adalah “Titik Balik BIMA ARYA” (Juni 2013) dan “Karni Ilyas Lahir Untuk Berita” (2012) yang merupakan buku biografi yang laris dibaca kalangan tua dan muda.

“Dari semua tokoh yang pernah saya tulis atau saya sunting kisah hidupnya, inilah kali pertama saya menulis tentang seseorang yang hanya dikenal oleh segelintir orang. Tapi saya tertantang karena zig zag kehidupan sosok ini luar biasa. Semua orang yang mengenalnya tidak menyangka dia bisa seperti sekarang,” ujar Fenty.

Seperti ketika biografi Barack Obama belum ditulis, ketika Ibnu Sutowo belum bercerita kepada Ramadhan K.H., dan ketika Karni Ilyas menyimpan sendiri kisah 40 tahun perjalanan hidupnya sebagai wartawan, tidak banyak yang tahu lika-liku perjalanan hidup mereka. Demikian halnya dengan Ahmad Sahroni.

Dalam pengantar buku Fenty menulis: Sukses Ahmad Sahroni menunjukkan bahwa semua orang pada dasarnya adalah orang kaya. Orang biasa, tanpa terkecuali, sebenarnya punya semua yang dimiliki Roni, yaitu: kerja keras, tidak gampang menyerah, sabar, dan jujur. Tapi kebanyakan kita lupa bahwa harta itu melekat pada diri kita. Selamat membaca kisah yang menginspirasi ini.

Judul Buku: AHMAD SAHRONI: Anak Priok Meraih Mimpi

Penulis: Fenty Effendy

Terbit: Agustus 2013

Penerbit: Komunitas Bambu

ISBN: 978-979-25-1648-7

Tebal: 128 halaman

Tabligh Akbar bersama H. Ahmad Sahroni dan Caleg DPRD H. Abi

Ahmadsahroni.com - Tabligh Akbar, silaturahmi dan sosialisasi bersama H. Ahmad Sahroni dan Caleg DPRD H. Abi di Jl. Warakas RT. 01 Kel. Warakas Kec. Tanjung Priok bersama Para ketua RW, ketua RT, para tokoh masyarakat serta ibu ibu majelis ta'lim dan warga RW. 01-RW. 02, (14/9/13).